19 Agustus 1977: Tsunami dari Samudra Hindia landa Sumba, Sumbawa dan Lombok
Gempa dan tsunami dari Samudra Hindia melanda kawasan pesisir di Sumba, Sumbawa, dan Lombok pada 1977. Namun, bencana yang menimbulkan banyak korban jiwa itu telah dilupakan warga.

Elshinta.com - Gempa dan tsunami dari Samudra Hindia melanda kawasan pesisir di Sumba, Sumbawa, dan Lombok pada 1977. Namun, bencana yang menimbulkan banyak korban jiwa itu telah dilupakan warga.
Jumat, 19 Agustus 1977, tepat pukul 14.08 waktu setempat, gempa besar mengguncang dari bawah laut Samudra Hindia di barat daya Pulau Sumba. Tak lama kemudian tsunami menghantam pesisir selatan Sumba, Sumbawa, Lombok, hingga Bali. Risiko ke depan bisa lebih tinggi karena kawasan yang dulu terdampak kini justru tumbuh menjadi pusat wisata baru.
John Lius (53), warga Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, masih ingat dengan guncangan gempa yang menurut dia terkuat yang pernah dirasakan sepanjang hidupnya. ”Itu pengalaman tak terlupakan. Saya lagi menonton pacuan kuda di Rihieti Prailiu (Sumba Timur). Sekitar pukul dua siang, waktu itu sedang istirahat makan siang, tiba-tiba tanah bergoyang keras,” ujar John.
John yang saat itu masih berumur 11 tahun jatuh dan terguling-guling di lapangan pacuan kuda. ”Semua orang panik saat itu,” katanya.
Seingat John, gempa saat itu mengakibatkan banyak rumah tembok retak-retak, bahkan dinding pagar kantor Bulog di Sumba Timur roboh dan menimpa anak kecil. Namun, John tidak tahu bahwa gempa berkekuatan M 8,3 yang berpusat di bawah laut Samudra Hindia sekitar itu juga memicu tsunami dahsyat.
Bahkan, kebanyakan orang di Waingapu, yang kami temui pada akhir Juni 2019 lalu, tidak mengingat lagi gempa besar yang pernah terjadi pada 1977. Warga yang tinggal di pesisir Melolo, Sumba Timur, juga tak ada yang mengetahui bahwa gempa dan tsunami pernah melanda kampung mereka.
Padahal, dalam laporan International Tsunami Information Center (ITIC) disebutkan, tsunami akibat gempa saat itu mencapai ketinggian 1,5 meter (m) di Melolo dan 1 m di Waingapu. Tim ITIC dan Institute of Meteorology and Geophysics (sekarang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika/BMKG) telah melakukan survei di Sumba, Sumbawa, Lombok, dan Bali pada 26 Agustus-7 September 1977. Disebutkan, beberapa rumah rusak di Melolo akibat tsunami ini. Di Leterua, Sumba Barat Daya, tinggi tsunami mencapai 5,5 m dan landaannya 1.200 m ke darat.
Tsunami tertinggi tercatat terjadi di Pantai Lunyuk, Pulau Sumbawa, yaitu mencapai 5,8 m dan 500 m ke daratan. Kawasan ini disebut mengalami kehancuran paling dahsyat dan jumlah korban terbanyak.
Sementara di Lombok, tsunami melanda Pantai Kuta dengan tinggi 4,3 m, Labuanhaji 3,2 m, Batunampar 2 m, dan Awang hingga 4,3 m. Di kawasan itu dilaporkan 65 orang meninggal dan 37 orang hilang. Tsunami juga terekam terjadi di Nusa Dua dan Benoa, Bali, masing-masing dengan ketinggian 2,5 m dan 4 m.